Kurma merupakan buah khas dari negara-negara di Timur Tengah dan hasil panen dari negara tersebut sudah tersebar ke berbagai negara, salah satunya Indonesia. Kurma yang terkenal hanya bisa tumbuh di negara dengan iklim kering sebenarnya sudah mulai diusahakan untuk tumbuh di Indonesia yang beriklim tropis. Usaha tersebut telah membuahkan hasil dan kurma yang dihasilkan dikenal dengan nama kurma lokal.
Gambar 1. Kurma Lokal
Di negara asalnya, tanaman buah ini memerlukan iklim kering untuk berbunga dan menghasilkan buah yang berkembang menjadi kurma tamr atau kurma kering. Di Indonesia, kurma berpotensial ditanam di daerah dengan iklim yang relatif kering dan jarang hujan, yaitu Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
Antara kurma lokal dan kurma dari Timur Tengah memiliki banyak perbedaan, mulai dari segi kualitas, rasa, hingga waktu panen. Kurma Timur Tengah bisa dipanen pada tahap kurma tamr atau sudah matang sempurna. Sementara itu, kurma yang ditanam di Indonesia hanya dapat dipanen pada tahapan khalal (kurma mentah) atau ruthob (buah sudah mulai kecokelatan). Artinya, buah belum matang sempurna.
Aroma Kurma Lokal
Kandungan Kurma Lokal
Selain itu, kandungan serat di dalam kurma khalal dan ruthob belum dimodifikasi sehingga tekstur buahnya renyah, tidak seperti kurma yang sudah matang bertekstur lembut.
Bentuk Kurma Lokal
Ukuran buah kurma yang tumbuh di Indonesia cenderung lebih kecil. Hal ini dikarenakan iklim tropis sebenarnya kurang mendukung pertumbuhan buah yang sering disajikan untuk berbuka puasa.
Selain ukuran yang lebih kecil, perbedaan yang mencolok juga terlihat pada bentuknya yang cenderung agak bulat dan berwarna kuning terang. Justru kurma yang dibudidayakan di Indonesia lebih mirip kurma tropika dari Thailand.
Di antara sekian banyak perbedaan tersebut, jumlah buah per tandan kurma Indonesia bisa menyamai jumlah buah per tandan kurma di Timur Tengah. Apalagi, bila pohon induk dipelihara dengan penyerbukan buatan, yakni penyerbukan dengan bantuan manusia.

